Minggu, 15 Februari 2026

Belajar Tidak Mudah Tersinggung: Tentang Berdamai dengan Diri Sendiri

Manusia yang tahan mental.
Tidak gampang tersinggung.
Tidak gampang marah.

Enak ya kalau bisa jadi manusia seperti itu.

Belakangan ini aku menyadari sesuatu.

Tersinggung itu sering kali tanda bahwa kita belum berdamai dengan diri sendiri.
Belum sepenuhnya menerima apa yang ada di dalam diri kita.
Belum yakin dengan nilai diri kita.

Karena itu, ketika ada omongan orang yang “menyentil” bagian yang diam-diam belum kita terima, kita langsung bereaksi.

Padahal yang tersentuh bukan omongan orangnya.
Yang tersentuh adalah luka yang belum sembuh.

Ketika Validasi Masih Datang dari Luar

Misalnya ada yang berkata:

“Eh, kamu gendutan ya?”
“Kok kurusan banget sekarang?”

Kalau kita belum menerima kondisi fisik kita, kita akan merasa diserang.
Marah.
Tersinggung.
Merasa dihakimi.

Tapi kalau kita sudah menerima diri kita apa adanya?

Jawabannya bisa jadi santai saja:

“Iya nih, hehehe. Doakan sehat yaa.”

Bukan karena kita tidak peduli.
Tapi karena kita sudah tahu posisi kita.

Kalau memang merasa perlu memperbaiki pola makan atau olahraga, ya tinggal diperbaiki.
Tanpa drama batin.
Tanpa perang dalam kepala.

Penerimaan Diri Itu Kunci

Ketika kita sudah berdamai dengan diri sendiri, kita bisa melihat sesuatu dengan lebih objektif.

Kita bisa membedakan:

  • Mana yang memang masukan untuk diri kita.

  • Mana yang sebenarnya hanya proyeksi atau masalah orang lain.

Kita tidak lagi sibuk mencari validasi dari luar.
Karena kita sudah memvalidasi diri sendiri.

Dan itu… melegakan sekali.

Tapi Realitanya Tidak Semudah Itu

Teorinya indah.

Prakteknya?
Jungkir balik.
Salto.
Guling-guling.

Kadang sudah merasa kuat, besoknya tersinggung lagi.
Kadang sudah merasa yakin, eh goyah lagi.

Dan itu manusiawi.

Berdamai dengan diri sendiri bukan tombol on–off.
Ia adalah proses.
Latihan.
Latihan.
Dan latihan lagi.

Satu Hal yang Sangat Membantu: Perkuat Tauhid

Aku pribadi belajar satu hal penting:

Perkuat tauhid.
Perkuat hubungan dengan Allah.

Ketika hati kita terpaut kepada Allah, standar nilai diri kita berubah.

Kita tidak lagi bertanya:

“Orang lain melihat aku bagaimana?”

Tapi berubah menjadi:

“Allah melihat aku bagaimana?”

Saat semua terpaut kepada Allah:

  • Kita lebih mudah menerima takdir tubuh kita.
  • Lebih mudah menerima kekurangan kita.
  • Lebih tenang saat dikomentari orang.
  • Lebih ringan saat gagal.

Karena identitas kita tidak lagi ditentukan oleh manusia

Don't Be Too Hard on Yourself

Kalau hari ini kamu masih mudah tersinggung,
masih mudah marah,
masih merasa goyah oleh komentar orang…

It’s okay.

Mungkin itu tanda ada bagian diri yang masih butuh dipeluk.
Bukan dimarahi.

Tidak apa-apa belum sempurna.
Tidak apa-apa belum kuat.

Pelan-pelan saja.

Don’t be too hard on yourself.
It’s okay not to be okay.

Yang penting, terus belajar.
Terus kembali kepada Allah.
Terus memperbaiki diri dengan lembut.

Karena menjadi kuat secara mental bukan tentang tidak pernah tersinggung.

Tapi tentang semakin cepat kita kembali tenang.

Dan itu… adalah perjalanan seumur hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar