Minggu, 28 Juni 2020

Memisahkan Masalah Diri dan Masalah Orang Lain

Kata orang, mood itu menular.
Bila orang lain senang, kita juga ikut senang.
Bila orang lain sedih, kita juga ikut sedih.
Bila orang itu kesal, apakah kita juga ikut kesal?

Kalau saya, awal-awal iya.
Saya kerap kali ikut merasa kesal kalau ada orang lain yang kesal di sekitar saya.
Itu membuat suasana jadi tidak enak.
Atau setidaknya merasa, kok gitu aja kesal sih.
Kok gitu aja marah-marah sih. Kan ada cara lain yang lebih baik.
Intinya, saya ikut merasakan emosi negatif bila ada orang yang beremosi negatif.
Entah saya merasa ikut bersalah, jangan-jangan dia kesal karena salah saya (tapi ga berani nanya), atau merasa ikut kesal, marah (di dalam hati), dan perasaan lainnya yang bercampur aduk.

Sampai suatu saat saya merasakan suatu kedamaian di hati.
Saya bisa stay cool walaupun orang di sekitar saya memiliki emosi negatif.

"Itu masalah dia, bukan masalah saya."

Bukan berarti saya tidak peduli. Bukan.
Maksudnya, itu masalah dia, saya tidak perlu ikut kesal maupun terlalu ikut pusing memikirkannya.
Bila masalah dia menyangkut saya, saya minta maaf (Yap, perlu dipastikan langsung ke orangnya, karena hanya berprasangka itu melelahkan).
Tapi kalau bukan karena saya, saya membantunya dengan cara sebisa saya.
Ingat, peran utama pemecahan masalah dilakukan oleh orang yang bersangkutan.
Saya hanya supporter saja. Kalau tidak bisa dengan kata-kata atau perbuatan, ya dengan doa.
Kadangkala kita terlalu ikut campur dalam memikirkan masalah orang lain. Kita kasih saran-saran, eh orang itu tidak mengikuti saran tersebut, lalu kita jadi gregetan.

Orang tua yang terlalu ikut campur dalam masalah anak.
Istri yang terlalu ikut campur dalam masalah suami, atau sebaliknya.
Memang kita harus saling membantu, tapi jangan mengambil alih pelaku pemecahan masalah.

Jadi, bila orang di sekitar kita memiliki masalah, stay cool saja. Jangan terpancing emosi. Itu masalah dia, lakukan saja apa yang kita bisa lakukan.
Setelah emosi yang bersangkutan agak mereda, kita bisa tanyakan apa yang bisa dibantu.
Kita bisa membantu dengan kata-kata yang menghibur. Atau dengan menawarkan makanan atau minuman untuk melunakkan suasana.
Bila bantuan kita dirasa tidak terlalu berarti, jangan diambil hati. Karena pelaku pemecahan masalah bukan di kendali kita.

Pisahkan masalah orang lain dan masalah kita.
Masalah kita, kita hadapi dengan serius.
Masalah orang lain, cukup bantu semampu kita tanpa merasa baper.
Tentunya jangan lupa berdoa kepada Allah, agar masalah terselesaikan, dan hati senantiasa damai :)
Insyaa Allah.

Jumat, 25 Mei 2018

Obat Anti Galau

Akhirnya saya menemukan obat anti galau dalam hidup. Seringkali kita tahu teorinya, harusnya kalau ada masalah mindset kita begini begitu, tapi susah dalam prakteknya. Adakah jalan pintas setiap kita merasa gelisah, kita langsung tenang? Mungkin hal ini bisa dipraktekkan.

1. "Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing atas dirinya."
Konsep ini dapat dipraktekkan terutama ketika kita memiliki masalah hablum minannaas, entah itu dengan teman, keluarga, atasan, atau yang lainnya. Kadangkala dalam berinteraksi dengan orang lain, kalau ada ketidaksesuaian kita merasa kecewa, sedih, atau marah. Kalau bisa disampaikan ya sampaikanlah. Namun apabila sulit, doakan saja. Biasanya masih ada sisa-sisa bete kan ya, ih kok dia gitu banget sih. Nah untuk mengatasi kegalauan atau bete, pikirkan saja "Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing atas dirinya." Biar aja ah dia kayak gitu, yang penting saya sudah berusaha sebaik mungkin dan berniat baik. Fokus sama diri sendiri aja deh. Udah.

2. "Serahkan masalah sama Allah."
Manusia adalah makhluk yang lemah. Seringkali kita menemukan ketidakmampuan dalam diri kita, dan merasa lelah. Saya sering merasa gitu. Aduh kok badan capek mulu ya kapan bisa kerja. Aduh kok orang itu gitu banget sih tapi susah ngomongnya. Aduh saya bisa gak ya bla ba bla. Kadangkala overthinking membuat kita lelah, dan masalah yang ada membuat galau. Jadi obatnya, saya serahkan sama Allah. Berdoa. Nah awalnya mungkin ngerasa, ih itu abstrak banget, gak konkrit. Curhat sama orang terus minta tolong gitu kek. Tapi menurut saya inilah langkah awal untuk menghadapi sebuah masalah. Mungkin pertama Allah akan memberikan ketenangan di kita, akhirnya kita bisa jernih berpikir mencari solusi. Mungkin Allah akan mengirimkan seseorang untuk membantu kita menyelesaikan masalah. Dan banyaak lagi kemungkinan lainnya. " Ya Allah saya titip masalah ini kepada Engkau, semoga ada jalan keluarnya." berdoa dengan yakin Allah akan mudahkan. Saya masih belajar juga sih ini hehe.

Nah terus, akhir-akhir ini saya suka membaca arti dari ayat quran yang saya baca. Di quran saya, selain ada arti ada juga asbabun nuzul dan intisari ayat. Saya pelan-pelan baca semuanya (biasanya diskip kejar target setoran #ups). Banyak hal-hal yang menarik ternyata. Banyak ayat-ayat yang mengingatkan kita tentang surga dan neraka. Nah sebenarnya kan kita udah tahu konsep surga neraka, tapi walaupun udah tau menurut saya penting itu dibaca berulang-ulang sampai ngelotok. Kenapa? Supaya bisa diserap sampai ke lubuk hati terdalam. Kalau ada apa-apa kita langsung keinget, saya salah sampai berdosa ga? Kalau enggak mah ngapain galau.

Terus juga, agak OOT sih tapi. Saya pernah sempat baca-baca banyak kisah sahabat Nabi. Masya Allah ya perjuangan mereka di awal-awal keislaman. Saya sampai mikir, ya ampun masalah saya sepele banget dibanding mereka. Ga pantes ah ngeluh-ngeluh. Saya banyak diberi kenikmatan, kenapa malah mikirin masalah yang keeecil? Ternyata membaca cerita kisah-kisah perjuangan sahabat shahabiyah tidak sekedar baca cerita, namun juga bisa jadi penyemangat menjalani kehidupan sehari-hari.

Akhir kata, galau-lah untuk hal-hal yang penting saja!

Selasa, 02 Januari 2018

Diet Ala Ibu Hamil (tanpa berolahraga!)

Jadi ceritanya, saya diet pertama kali dalam hidup saya, yaitu ketika hamil!
Kenapa ibu hamil perlu diet? Karena di Jepang sangat memperhatikan kenaikan berat badan pada ibu hamil (terutama rumah sakit tempat saya periksa, yang terkenal ketat dalam hal ini). Untuk yang berat badannya dalam standar BMI pertambahan berat badan yang diperbolehkan adalah sekitar 8-10 kilo, dan bagi yang di bawah BMI 9-12 kilo. Untuk yang di atas BMI? Sekitar 5-7 kilo katanya.

Sedikit info kenapa kita harus mengontrol pertambahan berat badan ketika hamil. Salah satu alasannya adalah untuk mempermudah jalur melahirkan nanti. Bila kita terlalu gemuk secara tiba-tiba, maka lemak akan menempel di saluran lahir dan itu akan menghambat bayi keluar. Berbagai penyakit juga akan muncul bila kenaikan berat badan ibu terjadi secara signifikan.

Kalau diet biasa mah gapapa nahan lapar dikit. Nah masalahnya kalau ibu hamil, asupan gizi harus cukup. Kebanyakan makan ga baik, terlalu sedikit makan apalagi. Itu suliiit. Biasanya ibu hamil diimbangin dengan olahraga ringan (seperti jalan kaki) untuk menjaga kestabilan berat badan. Tapiii berhubung saya mengalami kontraksi dini, saya tidak bisa berolahraga. Jalan-jalan di dalam rumah (mengerjakan pekerjaan rumah) saja saya batasi, apalagi bepergian ke luar.
Namun alhamdulillah, berkat saran dari dokter, tanya-tanya ke teman, dan googling dari beberapa sumber (dan tentunya atas izin Allah), saya dapat menjaga pertambahan berat badan saya! Tanpa berolahraga dan tanpa heboh menahan lapar.

Berikut tips-tips dari saya :

- Untuk minuman, kurangi yang manis-manis dan perbanyak minum air putih. Dulu saya suka banget minum cocoa atau milk tea. Nah ini yang pertama kali saya lakukan, mulai dari memperbaiki asupan air yang masuk. Bahkan jus kemasan pun kalau bisa dihindari, karena manisnya kadang kala lebay. Kalau bisa minum air putih minimal 1,5 L.

- Untuk porsi makan, sarapan lebih banyak dari makan siang, makan siang lebih banyak dari  makan malam. Makan malam jangan terlalu banyak, sebaliknya kita boleh makan yang cukup ketika sarapan atau makan siang untuk energi selama satu hari. Oh ya, kata dokter ternyata kurang baik loh makan buah-buahan saja untuk sarapan. Karena gulanya sangat tinggi di situ (ibu hamil juga harus memperhatikan kadar gula).

- Makan yoghurt setiap hari setelah sarapan. Selain menghilangkan sembelit, menurut teman saya ini juga efektif mengurangi berat badan. Oh ya, yoghurtnya yang plain yoghurt tanpa tambahan gula ya. Saya bahkan beli plain yoghurt yang rendah lemak.

- Kalau saya sih tidak mengurangi porsi nasi (awal mulanya saya mengurangi porsi nasi, tapi malah laper dan jadi ngemil-ngemil gak jelas). Di awal-awal mungkin tidak perlu mengurangi porsi nasi (kalau dirasa sulit), TAPI perhatikan juga lauk yang dimakan. Jangan makan nasi lauknya kentang sayurnya bihun (atau mie) ditambah kerupuk. Itu mah karbohidrat semuaa. Perbanyak sayur, kalau bisa hindari sebisa mungkin gorengan. Kalau makan ayam goreng minyaknya diserap dulu pake kitchen paper. Lauk berupa bakwan juga kalau bisa dihindari karena 30%nya adalah minyak (kata bidan di pre-mama class). Rebusan kukusan paling aman lah pokoknya.

- Jam-jam rawan lapar adalah di antara sarapan dan makan siang (jam 10-an), dan di antara makan siang dan makan malam (jam 3-an). Tipsnya adalah, untuk yang jam 10-an, biasanya saya minum sesuatu yang mengenyangkan seperti susu kedelai (yg tanpa tambahan gula dan bahan lainnya). Kalau masih laper juga, ya udah makan siangnya aja dipercepat haha. Nah yang jam 3-an baru 'agak bebas ngemil' karena konon katanya makan di jam 2-4 siang tidak terlalu bikin gemuk. Namuun tetap saja dikontrol ya.
Kurangi (kalau bisa hindari) snack atau cemilan kemasan yang manis-manis, seperti cokelat, biskuit. Potato chips yang berbau-bau karbo juga hindari. Cokelat bolehlah sekali-kali tapi pilih yang dark chocolate. Ngemil yang sehat saja seperti buah, kurma, ubi, bubur kacang hijau (tanpa santan dan sedikit gula). Plain cracker masih oke lah kalau ga banyak-banyak mah.
Kalau pengeeen banget ngemil makanan kemasan yang manis-manis atau es krim, boleh saja tapi maksimal 100-150 kcal sehari (atau dikira-kira saja jangan kebanyakan). Kalau mau ngemil baiknya sampai sebelum jam 4 sore. Jangan sampai stress pokoknya, ini yang penting! haha.

- Biasanya saya juga suka kelaparan begitu bangun sebelum sholat shubuh. Saya mengatasinya dengan minum susu hangat dan kurma, kadang-kadang sama pisang. Tapi hati-hati juga dengan pisang karena kalorinya cukup tinggi. Kadang-kadang saja lah pisang mah. Untuk kurma, memang bagus untuk ibu hamil, tapi batasi 3-4 butir per hari saja. Kalau engga nanti kadar gula darah akan naik. Untuk susu, saya pilih yang low fat (tapi tidak mengurangi zat gizi yang lain).

- Tidur malam usahakan 3 jam setelah makan malam. Tapi katanya kalau rebahan doang gapapa, asal jangan tidur. Langsung tidur setelah makan bikin gampang gemuk.

- Kalau kepaksa lapeeer banget di luar jam-jam 'boleh ngemil', misal setelah makan malam kok laper yah? Sering banget saya kayak gitu. Yang pertama kali adalah minum air putih. Karena konon katanya rasa lapar dan haus itu mirip. Jadi jangan-jangan yang kita rasa lapar itu sebenarnya haus? Atau coba minum yang sedikit mengenyangkan, susu kedelai. Kedua, saya makan kurma atau plain cracker. Sebisa mungkin yang tanpa gula. Gula pun pilih yang bersumber alami. Kalau masih sulit ya udah tidur aja, atau melakukan aktivitas lain haha.

- Jam 22.00-02.00 merupakan jam-jam yang kalau kita makan bikin gampang gemuk, jadi palingan saya nahan laparnya di jam-jam ini saja (kalau kebetulan kebangun di jam segitu).

- Yang terakhir, ga ada hubungannya sama makan dan minum sih. Menimbang berat badan tiap hari di jam yang sama dan mencatatnya cukup efektif lo ternyata, untuk meningkatkan motivasi mengontrol berat badan hihi.

Menurut saya ini diet sehat, bisa diterapkan oleh siapa pun tidak hanya untuk ibu hamil.
Akhir kata, selamat memperhatikan pola makan :)

Senin, 07 Agustus 2017

Mother Class (Pertemuan Pertama)

Haloo sudah lama tidak berjumpa wkwk. Kali ini saya ingin sharing tentang 'Mother Class' yang diselenggarakan oleh pihak rumah sakit Tama yang terletak di Kawasaki (Kawasaki Municipal Tama Hospital). Apa itu mother class? Mother class adalah kelas untuk para ibu baru, yang berisikan tentang informasi kehamilan maupun melahirkan. Selain itu kelas ini bertujuan untuk sarana berteman para ibu-ibu baru (katanya sih wkwk).

Kelas ini dibagi menjadi lima pertemuan dan jadwalnya disesuaikan oleh HPL masing2, jadi ada beberapa kloter dengan jadwal sebagai berikut :

Berhubung HPL saya adalah tanggal 30 Januari 2018, jadi saya masuk ke kloter yang pertemuan pertamanya tanggal 7 Agustus 2017. Kelas ini diselenggarakan setiap hari senin hingga pertemuan ke-4, khusus di pertemuan ke-5 diselenggarakan hari sabtu dan kita diminta datang bersama suami (ada penjelasan tentang melahirkan). Satu kelas terdiri dari sekitar 15 orang, yang HPLnya kurang lebih sama.

Bayar ga sih? Jawabannya bayar wkwk. Untuk 5 kali pertemuan sebesar ¥6540 (sekitar Rp 785.000). Tapi menurut saya worth it sih, secara pertama kalinya melahirkan di negara antah berantah dan jauh dari orang tua pula. Lebih baik kita mencari info dan teman sebanyak-banyaknya. Nah, karena sudah bayar mahal, ada baiknya juga saya mendokumentasikan setiap pertemuan dalam tulisan seperti ini, biar bisa diambil manfaatnya bersama hihi.

Nah, sekarang saya share apa isi dari mother class pertama. Kelas dimulai jam 13.00, dan jam 13.00 teng kami diminta mengikuti seorang bidan menuju ke sebuah ruangan. Jangan telat yah wkwk.
Pertama, sekelas yang berisi sekitar 15 orang (tadi cuma ber-13) dibagi menjadi 5 grup kecil yang satu grupnya berjumlah 2-3 orang. Masing-masing orang memperkenalkan diri satu sama lain, karena nantinya 4 pertemuan ke depan akan bersama dengan orang-orang yang sama. Satu kelas mother class dipegang oleh satu orang bidan. Bidan yang menangani kelas saya namanya Yokoyama-san, beliau asli Kagoshima perfecture. Beliau sebelumnya bekerja selama 10 tahun di Kagoshima, kemudian pindah ke Tama hospital dan sudah bekerja 3 tahun di sini. Jadi.. lumayan pro lah, berpengalaman 13 tahun sebagai bidan.
Oh ya, kami juga diberi handout seperti ini :

Selanjutnya, kami diminta untuk mendiskusikan perihal sebuah topik per kelompok kecil (masing-masing kelompok mendapatkan topik yang berbeda), sekalian mengobrol satu sama lain untuk mengakrabkan suasana. Kita boleh juga me-list pertanyaan-pertanyaan dan akan dijawab oleh bidan Yokoyama-san.
Kebetulan kelompok kami mendapatkan topik yang bertemakan boshitecho (Maternal and child handbook). Boshitecho adalah sebuah handbook yang bisa didapatkan di ward office, penampakannya seperti ini (nanti akan saya jelaskan di bawah) :

Topik-topik yang muncul adalah sebagai berikut.

1. Morning Sickness (mual ketika hamil)
Atau dalam bahasa Jepang disebut dengan 'tsuwari'. Ini nih masalah utama buat ibu hamil kali ya. Hampir semua ibu hamil merasakan hal ini. Beberapa point penting yang saya dapatkan baik dari poin yang disebutkan peserta maupun penjelasan bidan adalah sebagai berikut..
- Rasa mengantuk ketika hamil merupakan sinyal dari jabang bayi agar kita istirahat. Rebahan atau tiduran sekitar 5 menit
- Beberapa makanan yang biasanya 'masuk' ketika mual adalah : fried potato, tomat, shouyu senbei (dr peserta), apel, ramen ayam (kata bidannya ada orang yg cuma bisa makan ini selama hami, dan ini diiyakan oleh salah satu peserta katanya karena rasaya enak jadi cenderung bisa masuk), dan semangka.
- Bagaimana kalau kita cuma bisa makan sedikit? Apakah ada pengaruh ke si dedek? Katanya kalau di masa-masa ini (tri semester awal), kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan masalah gizi dedek. Kalau ternyata asupan makanan kita kurang, lemak kita bisa dibakar untuk dijadikan gizi. Nah, mungkin itu sebabnya saya semakin kurus :(
- Yang jelas asupan cairan sangat penting. Sebisa mungkin kita banyak minum. Kalau sampai cairan pun tidak bisa masuk, maka jalan keluarnya adalah infus :(
- Salah satu jenis morning sickness adalah mual apabila kita tidak makan apa pun (tabezuwari). Nah kita kan biasanya selalu makan supaya perut tidak kosong. Kalau sudah sekitar minggu ke-22 mual-mual sudah berhenti, tapi seringkali kita tidak sadar, dan tiba-tiba berat badan kita bisa naik secara signifikan. Kita juga diingatkan agar berat badan tidak bertambah secara signifikan (hanya diizinkan sekitar 8~12 kilo selama hamil). Di rumah sakit ini kontrol berat bedan sangat ketat. Apabila bertambah 2 kilo di antara dua pemeriksaan, maka kita bisa 'dinasehatin' oleh ahli gizi rumah sakit.
- Nah bagaimana kalau berat badan kita berkurang? Berapa kilo yang termasuk wajar? (Ini pertanyaan saya sih wkwk). Katanya kalau 4~5 kilo baru masuk rumah sakit untuk diinfus. Kalau masih 2~3 kilo sih masih gapapa, dalam ambang kewajaran.

2. Boshi techo
Apa itu boshi techo? Boshi techo kalau kata mbah gugel translate adalah maternal and child handbook, isinya data diri dan catatan kesehatan kita selama kehamilan dan kesehatan anak setelah melahirkan. Buku ini bisa didapatkan gratis di ward office terdekat, dan diwajibkan untuk dimiliki oleh semua ibu hamil. Setiap periksa kehamilan pasti kita diminta untuk mengumpulkan boshi techo. Dan yang tidak kalah penting adalah, adanya kupon potongan harga ketika pemeriksaan kehamilan untuk 14 kali pemakaian dengan nominal yang berbeda-beda  (setiap daerah pun akan mengeluarkan nominal yang berbeda), sebagai bentuk support keuangan dari pemerintah.
- Sang bidan mengingatkan kita untuk selalu membawa buku ini ketika bepergian. Tujuannya adalah apabila terjadi masalah kesehatan di luar (seperti jatuh pingsan), orang-orang di sekitar akan paham kondisi kita sedang hamil, berapa bulan, dan rumah sakit mana yang menangani.
- Bidan juga menjelaskan sedikit sejarah boshitecho. Katanya ini sudah ada di Jepang sejak tahun 1942! Kakaknya ibunya bidan masih nyimpen boshitecho jaman tahun 1953, inilah penampakannya :

Latar belakang dibuatnya boshitecho adalah agar para ibu hamil lebih memperhatikan kesehatannya ketika hamil dan melahirkan. Informasi seperti ini biasanya sullit didapatkan, paling-paling dari ibu masing-masing. Agar informasi bisa didapatkan secara merata, dibuatkan lah buku ini, agar masing-masing individu lebih paham bagaimana caranya menjaga kesehatan semasa kehamilan dan seterusnya. Jepang dinyatakan sebagai negara yang tingkat kematian ibu melahirkan yang rendah, yang mungkin salah satu faktor pendukungnya adalah adanya boshitecho ini. Dan, katanya boshitecho juga mulai dikembangkan di negara-negara berkembang. Kemudian ketika saya gugling, ternyata negara itu adalah Indonesia! Katanya project buku semacam boshitecho ini mulai dikembangkan JICA di tahun 1998.

3. Rokok, Alkohol, dan Kaffein
- Bagaimana dengan perokok pasif? Ini juga tidak disarankan. Sebisa mungkin kita menghindari tempat orang-orang merokok. Untuk para suami, sebisa mungkin diminta untuk berhenti merokok. Apabila sulit, at least jangan merokok di luar rumah. Ada kemungkinan juga baunya menempel di baju, jadi setelah merokok usahakan untuk ganti baju atau bisa juga melapisi dengan baju lain.
- Bagaimana dengan alkohol yang dipakai di dalam masakan? (Jepang suka menggunakan alkohol seperti mirin dan sake sebagai bumbu masakan). Katanya tidak apa-apa karena alkoholnya akan menguap. Tapi itu tidak berlaku di agama Islam ya, tetap saja karena ada unsur khamr, makanan yang mengandung bumbu beralkohol haram untuk dikonsumsi.
- Bagaimana pengaruh kaffein dalam perkembangan janin? Kaffein adalah yang paling ringan efeknya dibandingkan dengan rokok dan alkohol. Tapi ya jangan heboh juga, kalau kita minum 5 cup kopi per hari, bisa menyebabkan bayi yang dilahrikan berukuran kecil. Asal kita mengkonsumsi dalam batas yang wajar, itu tidak masalah. Satu hari satu cup masih oke lah.

4. Olahraga dan Bekerja
- Olahraga apa yang diperbolehkan untuk ibu hamil? Renang atau yoga bisa menjadi salah satu alternatif olahraga, dengan catatan setelah melewati tri semester pertama (kondisi kandungan relatif stabil) dan berkonsultasi terlebih dahulu dengan pelatih. Olahraga yang paling mudah bisa dengan jalan kaki. Bagi yang bekerja, katanya tidak perlu melakukan olahraga pun tidak apa-apa karena khawatir malah terlalu lelah.
- Bagaimana ritme bekerja ketika hamil? Ada berbagai macam pekerjaan, kalau seperti programmer yang posisinya duduk terus-menerus sih mungkin tidak ada masalah. Yang penting jangan memaksakan diri, kalau dirasa perut 'kencang' harus langsung duduk. Biasanya orang-orang akan bekerja sampai minggu ke-34.

5. Pemeriksaan kehamilan
- Di rumah sakit ini tidak menyediakan fasilitas  foto USG 4D ya? Begitulah. Biasanya kalau ada yang mau mereka foto di luar, harganya kurang lebih ¥10000 (wiw mahal).
- Apakah ketika pemeriksaan kehamilan pada datang dengan suami? Yang jelas ketika pemeriksaan USG tidak boleh ada yang masuk, hanya pasien dan dokter, sehingga suami palingan nunggu di luar ruangan USG, jadi mungkin bisa bosan. Tapi ada satu pemeriksaan untuk mengetahui jenis kelamin si dedek, nah di situ mungkin bisa ngeliat bareng. (Suami saya sih dateng-dateng aja kalau waktunya memungkinkan, walaupun cuma ikut ngedengerin penjelasan dokter hehe)
- Pada nanya apa aja waktu pemeriksaan dengan dokter? Salah satu peserta ada yang pernah nanya 'selama hamil apa saja makanan yang lebih baik dihindari', dijawab dokternya 'hmm, apa ya kayaknya ga ada deh. Makan kayak biasa aja.' Spontan semua peserta tertawa. Si bidan nambahin palingan sih daging mentah ya (kita ga biasa makan daging mentah juga ya udah lah ya wkwk), sama tuna (maguro) mentah juga lebih baik dihindari katanya. Lucu juga ya, dokter saya juga jawabannya seperti itu. Saya bayangin kalau di Indonesia udah cerewet ga boleh ini dan itu, tapi di sini kok malah kesannya ngebebasin gitu haha. Bidan juga menambahkan, biasanya ada pertanyaan juga boleh ga travelling sewaktu hamil. Beliau menyarankan untuk sebisa mungkin menghindarinya karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama perjalanan. Yang jelas jangan travelling ke luar negeri.

Begitulah ceritanya pertemuan pertama mother class. Sekarang saya mau ngebahas bahasana yang out of topic. Mungkin kebayangnya kalau di Indonesia udah heboh kali ya ngobrol-ngobrol sesama emak-emak walaupun baru kenal. Tapi tadi yang saya rasakan suasananya krik-krik banget haha, malah mungkin saya termasuk salah satu yang aktif ngoceh. Di satu sisi mereka serius mendengarkan, itu sih bagus, tapi di sisi lain kok agak kaku-kaku gitu suasanya haha. Tipikal orang Jepang sih ya.  Tadinya juga saya pikir bakalan tuker-tukeran kontak gitu, ternyatai ga ada yang berinisiatif ya udah lah ya wkwk. Tapi alhamdulillah saya mendapat banyak informasi bermanfaat di sini. Teman mah banyak deh, tetangga orang Indonesia sekitar rumah juga lagi musim hamil dan lahiran.
Pertemuan berikutnya bulan depan, tanoshimi desu~

Sabtu, 18 Juni 2016

Islam dan Indonesia

Awal mula dari semua ini adalah ketika saya membeli kebab (teman sih yang beli) di sebuah kedai kebab. Kebetulan pegawainya merupakan orang Irak, dan kami pun sedikit berbincang-bincang dengannya.
“Kalian dari mana?”
“Dari Indonesia.”
“Wah, orang Indonesia serius ya Islamnya, padahal jauh dari Arab.”
“(???)”
“Kalian sholat 5 kali sehari?”
“Iya.”
“Wah hebat.”
(Maafkan kalau ada sedikit kesalahan ingatan urutan percakapan dan istilah, tapi intinya seperti itu.)
Saya pun terhenyak, iya juga ya. Walaupun kata orangtua saya baru2 saja keislaman di Indonesia meningkat, tetap saja saya kagum dengan negara saya sendiri.
Pertama, yang dikatakan beliau tadi, Indonesia jauh dari Arab. Indoneisa bahkan dipisahkan oleh lautan dan Indonesia merupakan negara kepulauan yang notabene sulit untuk menjangkau seluruh daerah. Tapi di negara seperti itulah justru Islam berkembang pesat, banyak diterima di banyak kalangan sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara penganut umat Islam terbesar di dunia.
Islam bukan agama pertama yang masuk ke Indonesia. Islam masuk setelah Hindu Budha dan sebelum Kristen. Tetapi justru agama yg masuk di tengah-tengah ini lah yang paling banyak diterima. Saya jadi kagum dengan wali songo yang semangat menyebarkan Islam di Indonesia zaman itu.
Dan lagi, begitu damai di Indonesia. Toleransi umat beragama yang cukup tinggi. Kalau melihat konflik-konflik di timur tengah, saya suka sedih. Banyak umat Islam di sana tetapi terjadi peperangan. Walaupun di Indonesia sempat juga terjadi konflik, tetapi menurut saya cenderung lebih damai dibandingkan yang lainnya.

Ya, memang, tidak semua orang Indonesia taat menjalankan perintah agama. Tapi setidaknya yang saya rasakan di Jepang, banyak umat Islam dari Indonesia yang taat sholat, puasa, dan memakai kerudung. Saya mengikuti program “mahasiswa asing jadi guru”, yaitu program yang memperkenalkan negara-negara ke anak sekolah di Jepang yang dibawakan oleh mahasiswa asing. Dari sekitar 100 orang guru yang terdaftar, mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia lah yang menggunakan kerudung (menutup dada). Mahasiswa Indonesia juga cenderung rajin sholat.

Ya, memang, masih banyak persoalan yang harus diselesaikan di Indonesia. Tapi, dari semakin banyaknya fashion hijab di Indonesia, semakin ramainya mushola-mushola mall pada waktu jam sholat, semakin semaraknya acara-acara berbau keislaman seperti hafidz Indonesia, saya optimis ke depannya kita akan membaik.


Dan katanya, Islam akan menyebar dari Asia Tenggara. Mungkin karena kita ramah :D

Sabtu, 25 Januari 2014

Tidak Cukup Berbekal N1

Apa itu N1? Ya, itu adalah semacam level pada TOEFL Jepang. JLPT (Japanese Language Proficiency Test) merupakan tes kemampuan bahasa Jepang untuk orang asing, yang memiliki 5 level. N5 untuk level termudah dan N1 untuk level tersulit. Saya yang 'menyukai' bahasa Jepang mulai mengikuti tes tersebut dari tahun 2008 hingga tahun ini (kecuali tahun 2011 karena saya tidak berada di Indonesia), dan alhamdulillah sudah lulus level N1 sebanyak 3 kali.

Sekarang saya bekerja pada perusahaan IT Jepang, sebagai seorang translator. Sebagai seorang pemilik sertifikat N1 dan masa kecil pernah di Jepang, saya pikir mudah saja pekerjaan itu dilakukan. Tapi ternyata, dunia kerja mengatakan tidak demikian. Staff translator lain di perusahaan tersebut levelnya SANGAT tinggi. Jauh melebihi kemampuan saya. Banyak istilah kerja yang tidak saya pahami, kanji yang tidak bisa saya baca, bahasa sopan (keigo) yang ditujukan untuk klien yang saya tidak tahu. Awal-awal kerja bisa dikatakan saya cukup kewalahan. Ketika bos Jepang saya menginstruksikan sesuatu, saya sering kali menanyakan arti kosakata yang beliau ucapkan. Ketika berbicara pun saya seringkali kesulitan menyampaikan maksud saya karena tidak tahu istilahnya apa dalam bahasa Jepang. Tidak jarang saya miskom karena salah menangkap maksud bos saya.

Kesimpulannya : bekal lulus N1 tidak cukup untuk berkecimpung di dunia kerja. Banyak istilah bisnis, istilah IT, bahasa sopan yang asing. Masih belum ada apa-apanya. Jadi jangan lelah untuk terus belajar. Kalau istilah Jepangnya, "上には上がある", di atas ada atas lagi.

Dan yang tidak kalah penting (mungkin yang paling penting) bagi seorang translator, banyak-banyak berdoa. Semua kemudahan kita dalam memahami ucapan dan tulisan, menyampaikan sesuatu dalam bahasa lain, itu semua adalah karunia Allah. Bukan semata-mata usaha kita saja. Kelancaran dan ketenangan kita dalam berbicara juga demikian. Seringkali saya panik ketika menyampaikan sehingga membuat bingung lawan bicara (bahkan kadang-kadang saya juga bingung apa yang saya ucapkan ^^;). Namun ketika fokus, dan tentunya atas bantuan Allah, saya lancar menyampaikannya.

Saya semakin merasakan, kita tidak ada apa-apanya tanpa Allah :)

Rabu, 01 Januari 2014

Kucing Kecil

Kemarin, waktu makan malam
kudengar suara 'meong.....' di pojok halaman
Ternyata ada seekor kucing kecil
Sedang merintih, ...... laparkah?
"Ibu, bolehkah kubagi makan malamku dengan kucing kecil itu?" kataku

Ibu tersenyum dan menganggukkan kepalanya
Hatiku merasa senang.

Kuingat berita di koran
banyak masyarakat perlu bantuan
karena banjir yang melanda tiba-tiba
Anak-anak kecil kedinginan, lapar, dan demam

Kusisihkan uang jajanku untuk mereka
Demikian juga dengan teman-teman
Semoga ada artinya bagi mereka

25.2.2002
Puisi untuk PR Bahasa Indonesia kelas 6 SD, yang dibuatkan Ayah