Kemarin saya pulang
ke Indonesia (untuk sementara) pada tanggal 24 April 2021, dari Jepang.
Berhubung sekarang pada masa pandemi, banyak yang harus disiapkan dan sedikit
berbeda dengan kepulangan di masa normal. Semoga tulisan ini bisa membantu
teman-teman yang berencana pulang juga yah.
Hal-hal yang ingin
saya ceritakan di sini :
- Pengambilan PCR test
- Pemesanan tiket
- Pemilihan tempat karantina
- eHAC
Saya bahas satu-satu
ya.
- Pengambilan PCR test
Sertifikat
yang menunjukkan bahwa kita negative covid-19 wajib dibawa untuk seluruh orang
kedatangan dari luar negeri (baik WNA maupun WNI). Syaratnya adalah hasil test
maksimal 72 jam sebelum keberangkatan, harus berbahasa inggris, dan
ditandangani dokter.
Di
Jepang, PCR test dilakukan via saliva. Jadi gak dicolok2 ke idung.
Kalau
saya, saya melakukan test di sini https://setolabo.jp/
Biaya
test ¥6000, biaya sertifikat ¥5500 (sudah bahasa inggris dan ada nama
dokternya), jadi total sekitar ¥11,500.
Prosedurnya,
kita reservasi dulu antara jam 10:00-11:45 dari web, kemudian datang ke
tempatnya, ambil sampel saliva. Nanti kita disuruh add line account mereka,
untuk pengisian data2 tambahan, dan akan ada voice call juga dari dokter. Bila
hasil negative akan dicantumkan nomor kita di webnya, dan kalau positive akan
ditelepon. Bila hasil negative dan sudah ada voice call dari dokter, hasil bisa
diambil hari itu juga antara pukul 17:30-18:00.
Alhamdulillah
sertifikat saya ini diterima oleh pihak bandara, walaupun bukan di klinik atau
rumah sakit.
- Tiket pesawat
Nah
ini, rasanya agak beda dari yang sebelumya. Muahal-muahal rasanya, dan yang direct flight sedikit. Yang via transit, ga tanggung-tanggung ada yang transit 12 jam. Lagi-lagi mungkin karena jumlah flight sedikit kali ya. Harganya mahal, apa karena
saya pesannya H-3 dan bukan lagi season yang murah ya wkwk. Tapi saran saya
pilih maskapai yang terpercaya bukan abal-abal, karena sewaktu-waktu bisa saja
tiket kita dicancel sepihak. Saya memutuskan menggunakan Garuda Indonesia dari
bandara Haneda, Jepang. Lebih baik aman pasti berangkat walaupun agak mahal
dikit.
- Pemilihan tempat karantina
Setelah
sampai Indonesia, kita wajib karantina selama 5 hari. Untuk tempat karantina,
kita bisa memilih di wisma atau di hotel.
Untuk
wisma, biaya penginapan dan PCR gratis, disediakan makan, satu kamar diisi 2-3
orang, wifi tidak disediakan.
Sementara
untuk hotel, kita bisa memilih dari list hotel yang ada https://www.id.emb-japan.go.jp/info21_01_hotellist.pdf?fbclid=IwAR2fuga6mS0wde0sZ4Fqgtx0paQd-jMwACGoaJacPlMIf6uTUEAVzH4-99o
Biaya
hotel kisarannya antara 4,2 jt-9,5 jt (menurut teman saya) , sudah termasuk
makan, biaya PCR, 1 kamar 1 orang (atau disesuaikan dengan jumlah keluarga),
dan ada wifi.
Akhirnya
saya memilih hotel karena merasa lebih aman kalau tidak digabung orang lain.
Saya baca-baca dari pengalaman orang lain kalau karantina di wisma agak
'bebas', orang-orang tidak pada jaga jarak, makanan diletakkan di satu tempat
kemudian ambil masing-masing, dan kabarnya ada yang malah tertular di wisma
(wallahua'lam benar atau tidaknya).
- eHAC
Ini
adalah electronic-Health Alert Card. Bisa didownload via App store/play store,
maupun via web. Kabarnya kalau pengguna iPhone suka gagal kalau via app, jadi
kalau dirasa udah ngisi lengkap tapi gagal terus coba isi lewat web.
Langkah-langkahnya:
- Registrasi akun
- Login
- Klik akun → klik HAC →
halaman 'Daftar eHAC ' klik simbol (+) di kanan atas →pilih eHAC
International
- Isi halaman pertama eHAC yang
berisi data-data pribadi dan info kedatangan
- Isi halaman kedua eHAC, yaitu
info mengenai negara yang dikunjungi dalam 14 hari sebelumnya. Klik tombol
plus (kalau di app di kanan atas), lalu masukkan negara, tanggal
kedatangan di negara tersebut, dan tanggal keberangkatan dari negara
tersebut. Kalau kita sudah menetap lama di negara tersebut mgkn diisi saja
kapan kedatangan terakhir di negara itu. Ini WAJIB diisi ya teman-teman.
Karena saya skip ngisi ini (kata petugasnya ga usah diisi), eh tapi
setelah isi sampai halaman terakhir terus klik submit, hasilnya 'failed'
terus. Tidak dibilang kenapa failednya. Setelah diisi halaman ini langsung
berhasil alhamdulillah. (bagi pengembang app, penting banget untuk
mencantumkan error message wkwk)
- Isi halaman ketiga yang
berisi gejala-gejala yang dialami. Saya ceklis yang paling bawah terus isi
'tidak ada'.
- Isi halaman empat. Ini
contreng doang bahwa data yang kita isi adalah data yang benar, terus klik
submit.
eHAC
ini sudah ditanyakan di Jepang apakah sudah mengisi atau belum. Jadi sebaiknya
sudah disiapkan sebelum mendarat di Indonesia. Benar-benar dipakai ketika akan
PCR test di tempat karantina.
---------------
Nah
selanjutnya saya akan menceritakan proses dari bandara Haneda sampai mendarat
ke bandara Soekarno-Hatta.
Di
bandara Haneda counter Garuda ketika sedang mengantri check in, penumpang
dibagikan formulir untuk diisi (lupa formulir apaan wkwk), ya udah isi aja lah
ya. Isi data kita dan tanda tangan. Nanti ketika check in, kita diminta
negative certificate PCR, jadi ada baiknya dokumen itu kita masukkan ke dalam
tas yang gampang untuk dikeluarkan.
Setelah
itu masuk pesawat pada jamnya. Penempatan penumpang lumayan bagus untuk Garuda,
berjarak satu sama lain (atau karena jumlah penumpang relatif sedikit dibanding
besar pesawat kali ya wkwk). Dikasih makan siang, snack 2x, dan air minum botol
kecil 3x. Berhubung saya puasa, makan siang dibungkuskan sama pramugarinya
alhamdulillah. Di pesawat kita dibagikan form bea cukai dan kartu kewaspadaan
kesehatan berwarna kuning. Sebaiknya langsung isi di pesawat. Form bea cukai
akan diberikan ke petugas setelah di cengkareng, sedangkan untuk kartu
kewaspadaan kesehatan tidak diapa-apakan sama sekali wkwk.
Setelah
itu tibalah kami di bandara terminal 3 Soekarno Hatta. Jalannya puanjaang
banget , mana travelator (eskalator datar) gak nyala pula. Jadi disarankan
untuk teman-teman agar meminimalkan barang bawaan cabin dan maksimalkan bagasi,
karena perjuangan akan panjang.
Setelah
itu kami dikumpulkan ke sebuah area yang banyak kursi2, dibagikan form 'hasil
pemeriksaan kesehatan', dan mengisi identitas diri. Bagian hasil pemeriksaan
dan tanda tangan akan diisi petugas. Form itu kita pegang terus, sambil
mengantri duduk. Maju ke kursi di depannya terus duduk lagi.
Kita
majuuu terus hingga antri berdiri. Waktu itu saya tidak tahu antrian apa,
ternyata itu antrian untuk pemeriksaan kesehatan. Di depan akan ada beberapa
loket petugas kesehatan, di situ kita menyerahkan form 'hasil pemeriksaan
kesehatan' dan jawab saja pertanyaan2 petugasnya. Nah antrian di sini agak
kurang nyaman karena berdiri dan lama. Antriannya juga tidak efektif karena ada
8 loket tapi hanya ada 3 baris antrian. Jadi saran saya kalau ada baris yang
lebih pendek langsung pindah antrian saja. Dan jangan lupa untuk jaga jarak
dengan penumpang lain.
Setelah
itu kita ambil barang bagasi, kemudian antri lagi. Ternyata antrian untuk
karantina di wisma dan hotel berbeda, jadi sebaiknya kita tanyakan ke petugas
yang ada di sana. Ternyata itu antrian untuk bea cukai (saya tidak paham kenapa
di pisah antara wisma dan hotel), yang hotel dipersilakan duluan mungkin karena
kalau sudah booking khawatir menunggu pihak penjemputan hotel kali ya, tapi ga
tau juga sih. Antriannya lamaa sekali dan melelahkan, karena kita sambil
membawa semua barang kita. Kenapa lama, ternyata karena petugas bea cukainya
cuma seorang! Awalnya saya membatin 'ya ampun kok orang sebanyak gini
petugasnya cuma seorang'. Tapi karena protes itu melelahkan, saya mengganti
jadi 'ya ampun bapak yang sabar ya, harus nanganin banyak orang gini
sendirian', jadi kasian sama bapaknya. Semoga kuat ya Pak. Di sini baru kita
serahkan form bea cukai yang kita isi di pesawat.
Setelah
itu kita keluar bandara, dan ada antrian lagi. Karena saya lihat antriannya
cuma 1 ya udah saya mengantri di situ. Kemudian saya bingung karena ada 4 meja
di depan, tapi kenapa orang2 cuma 1 baris ngantrinya. Setelah tanyakan ke
petugasnya ternyata itu antrian untuk yang wisma, untuk yang hotel dipersilakan
langsung ke 3 meja yang lainnya. Waduh. Jadi saya sarankan untuk tanya ke
petugas antrian apa itu (kedua kalinya). Beneran antriannya membingungkan.
Semoga kita bisa lebih tertib lagi oh bangsaku..
Sebenarnya,
saya tadinya berniat ke hotel yang di alam sutera, karena dekat rumah. Tapi
kata grup di facebook bisa booking on the spot, jadi ya udah saya santai saja.
Ternyata yg di 3 meja itu tidak ada hotel yang saya rencanakan. Jadi saya
sarankan ke teman-teman, lebih aman untuk membooking hotel terlebih dahulu,
apalagi kalau ada preferensi lokasi maupun harga. Sepertinya yg on the spot di
bandara jadwalnya digilir.
Okelah,
saya pilih saja dari ketiga hotel itu. Hotel yang pertama, untuk paket
karantina katanya 8 juta-an all in, mahal sekalii.
Kemudian
saya ke meja hotel berikutnya, kali ini agak rational harganya 5 juta. Namanya
Luminor Hotel, hotel bintang 3 di Taman Sari (silakan search). Paket karantina
ini terdiri dari :
- Biaya PCR
- Makan 3x (kalau puasa 2x)
diantar ke kamar
- Laundry 3 pcs/hari
- wifi
Alhamdulillah
saya putuskan di hotel ini saja.
Setelah
itu booking di tempat, pasport dan boarding pass saya diminta (boarding pass
jangan sampai hilang ya), kemudian dikembalikan lagi. Saya lalu diarahkan ke
bagian pengantaran ke hotel, 1 orang 1 mobil.
Perjalanan
sekitar 30 menit menuju hotel. Ternyata hotelnya cukup bagus, tidak seperti
yang saya khawatirkan. Kemudian saya check in sekitar pukul 20:30 malam. Oh ya,
saya sampai di bandara sekitar pukul 17:00 lewat. Jadi lebih dari 3 jam
mengalami proses hingga sampai ke hotel.
Ketika
check in passport akan diminta, dan akan dikembalikan ketika check out. Hal-hal
penting yang perlu diketahui :
- makanan akan diantar ke
kamar. Karena saya berpuasa, maka diantar 2 kali. Untuk sahur antara pukul
03:30-04:00, dan buka puasa sekitar pukul 17:00-17:30. Untuk porsi, jenis varian makanan, dan rasa, saya cukup puas.
- PCR test pertama dilakukan
keesokan harinya (mungkin karena saya sampai di malam hari). PCR test
kedua dilakukan 3 hari kemudian. Kemudian besoknya check out. Jadwal PCR
test tidak ada dan tidak diberi tahu, jadi langsung langsung tanyakan saja
ke receptionist.
- Wifi lumayan stabil.
Overall
saya cukup nyaman di hotel ini, lumayan saya rekomendasikan ke teman-teman yang
mencari hotel.
Mungkin
cukup sekian cerita saya kali ini. Semoga bermanfaat :)