Minggu, 25 April 2021

Perjalanan Pulang ke Indonesia di Masa Pandemi

Kemarin saya pulang ke Indonesia (untuk sementara) pada tanggal 24 April 2021, dari Jepang. Berhubung sekarang pada masa pandemi, banyak yang harus disiapkan dan sedikit berbeda dengan kepulangan di masa normal. Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman yang berencana pulang juga yah.

 

Hal-hal yang ingin saya ceritakan di sini :

  • Pengambilan PCR test
  • Pemesanan tiket
  • Pemilihan tempat karantina
  • eHAC

 

Saya bahas satu-satu ya.

 

  1. Pengambilan PCR test

 

Sertifikat yang menunjukkan bahwa kita negative covid-19 wajib dibawa untuk seluruh orang kedatangan dari luar negeri (baik WNA maupun WNI). Syaratnya adalah hasil test maksimal 72 jam sebelum keberangkatan, harus berbahasa inggris, dan ditandangani dokter.

 

Di Jepang, PCR test dilakukan via saliva. Jadi gak dicolok2 ke idung.

Kalau saya, saya melakukan test di sini https://setolabo.jp/

Biaya test ¥6000, biaya sertifikat ¥5500 (sudah bahasa inggris dan ada nama dokternya), jadi total sekitar ¥11,500.

Prosedurnya, kita reservasi dulu antara jam 10:00-11:45 dari web, kemudian datang ke tempatnya, ambil sampel saliva. Nanti kita disuruh add line account mereka, untuk pengisian data2 tambahan, dan akan ada voice call juga dari dokter. Bila hasil negative akan dicantumkan nomor kita di webnya, dan kalau positive akan ditelepon. Bila hasil negative dan sudah ada voice call dari dokter, hasil bisa diambil hari itu juga antara pukul 17:30-18:00.

Alhamdulillah sertifikat saya ini diterima oleh pihak bandara, walaupun bukan di klinik atau rumah sakit.

 

  1. Tiket pesawat

 

Nah ini, rasanya agak beda dari yang sebelumya. Muahal-muahal rasanya, dan yang direct flight sedikit. Yang via transit, ga tanggung-tanggung ada yang transit 12 jam. Lagi-lagi mungkin karena jumlah flight sedikit kali ya. Harganya mahal, apa karena saya pesannya H-3 dan bukan lagi season yang murah ya wkwk. Tapi saran saya pilih maskapai yang terpercaya bukan abal-abal, karena sewaktu-waktu bisa saja tiket kita dicancel sepihak. Saya memutuskan menggunakan Garuda Indonesia dari bandara Haneda, Jepang. Lebih baik aman pasti berangkat walaupun agak mahal dikit.

 

  1. Pemilihan tempat karantina

 

Setelah sampai Indonesia, kita wajib karantina selama 5 hari. Untuk tempat karantina, kita bisa memilih di wisma atau di hotel.

Untuk wisma, biaya penginapan dan PCR gratis, disediakan makan, satu kamar diisi 2-3 orang, wifi tidak disediakan.

Sementara untuk hotel, kita bisa memilih dari list hotel yang ada https://www.id.emb-japan.go.jp/info21_01_hotellist.pdf?fbclid=IwAR2fuga6mS0wde0sZ4Fqgtx0paQd-jMwACGoaJacPlMIf6uTUEAVzH4-99o

Biaya hotel kisarannya antara 4,2 jt-9,5 jt (menurut teman saya) , sudah termasuk makan, biaya PCR, 1 kamar 1 orang (atau disesuaikan dengan jumlah keluarga), dan ada wifi.

Akhirnya saya memilih hotel karena merasa lebih aman kalau tidak digabung orang lain. Saya baca-baca dari pengalaman orang lain kalau karantina di wisma agak 'bebas', orang-orang tidak pada jaga jarak, makanan diletakkan di satu tempat kemudian ambil masing-masing, dan kabarnya ada yang malah tertular di wisma (wallahua'lam benar atau tidaknya).

 

  1. eHAC

 

Ini adalah electronic-Health Alert Card. Bisa didownload via App store/play store, maupun via web. Kabarnya kalau pengguna iPhone suka gagal kalau via app, jadi kalau dirasa udah ngisi lengkap tapi gagal terus coba isi lewat web. Langkah-langkahnya:

  • Registrasi akun
  • Login
  • Klik akun → klik HAC → halaman 'Daftar eHAC ' klik simbol (+) di kanan atas →pilih eHAC International
  • Isi halaman pertama eHAC yang berisi data-data pribadi dan info kedatangan
  • Isi halaman kedua eHAC, yaitu info mengenai negara yang dikunjungi dalam 14 hari sebelumnya. Klik tombol plus (kalau di app di kanan atas), lalu masukkan negara, tanggal kedatangan di negara tersebut, dan tanggal keberangkatan dari negara tersebut. Kalau kita sudah menetap lama di negara tersebut mgkn diisi saja kapan kedatangan terakhir di negara itu. Ini WAJIB diisi ya teman-teman. Karena saya skip ngisi ini (kata petugasnya ga usah diisi), eh tapi setelah isi sampai halaman terakhir terus klik submit, hasilnya 'failed' terus. Tidak dibilang kenapa failednya. Setelah diisi halaman ini langsung berhasil alhamdulillah. (bagi pengembang app, penting banget untuk mencantumkan error message wkwk)
  • Isi halaman ketiga yang berisi gejala-gejala yang dialami. Saya ceklis yang paling bawah terus isi 'tidak ada'.
  • Isi halaman empat. Ini contreng doang bahwa data yang kita isi adalah data yang benar, terus klik submit.

 

eHAC ini sudah ditanyakan di Jepang apakah sudah mengisi atau belum. Jadi sebaiknya sudah disiapkan sebelum mendarat di Indonesia. Benar-benar dipakai ketika akan PCR test di tempat karantina.

 

---------------

 

Nah selanjutnya saya akan menceritakan proses dari bandara Haneda sampai mendarat ke bandara Soekarno-Hatta.

 

Di bandara Haneda counter Garuda ketika sedang mengantri check in, penumpang dibagikan formulir untuk diisi (lupa formulir apaan wkwk), ya udah isi aja lah ya. Isi data kita dan tanda tangan. Nanti ketika check in, kita diminta negative certificate PCR, jadi ada baiknya dokumen itu kita masukkan ke dalam tas yang gampang untuk dikeluarkan.

 

Setelah itu masuk pesawat pada jamnya. Penempatan penumpang lumayan bagus untuk Garuda, berjarak satu sama lain (atau karena jumlah penumpang relatif sedikit dibanding besar pesawat kali ya wkwk). Dikasih makan siang, snack 2x, dan air minum botol kecil 3x. Berhubung saya puasa, makan siang dibungkuskan sama pramugarinya alhamdulillah. Di pesawat kita dibagikan form bea cukai dan kartu kewaspadaan kesehatan berwarna kuning. Sebaiknya langsung isi di pesawat. Form bea cukai akan diberikan ke petugas setelah di cengkareng, sedangkan untuk kartu kewaspadaan kesehatan tidak diapa-apakan sama sekali wkwk.

 

Setelah itu tibalah kami di bandara terminal 3 Soekarno Hatta. Jalannya puanjaang banget , mana travelator (eskalator datar) gak nyala pula. Jadi disarankan untuk teman-teman agar meminimalkan barang bawaan cabin dan maksimalkan bagasi, karena perjuangan akan panjang.

Setelah itu kami dikumpulkan ke sebuah area yang banyak kursi2, dibagikan form 'hasil pemeriksaan kesehatan', dan mengisi identitas diri. Bagian hasil pemeriksaan dan tanda tangan akan diisi petugas. Form itu kita pegang terus, sambil mengantri duduk. Maju ke kursi di depannya terus duduk lagi.

Kita majuuu terus hingga antri berdiri. Waktu itu saya tidak tahu antrian apa, ternyata itu antrian untuk pemeriksaan kesehatan. Di depan akan ada beberapa loket petugas kesehatan, di situ kita menyerahkan form 'hasil pemeriksaan kesehatan' dan jawab saja pertanyaan2 petugasnya. Nah antrian di sini agak kurang nyaman karena berdiri dan lama. Antriannya juga tidak efektif karena ada 8 loket tapi hanya ada 3 baris antrian. Jadi saran saya kalau ada baris yang lebih pendek langsung pindah antrian saja. Dan jangan lupa untuk jaga jarak dengan penumpang lain.

 

Setelah itu kita ambil barang bagasi, kemudian antri lagi. Ternyata antrian untuk karantina di wisma dan hotel berbeda, jadi sebaiknya kita tanyakan ke petugas yang ada di sana. Ternyata itu antrian untuk bea cukai (saya tidak paham kenapa di pisah antara wisma dan hotel), yang hotel dipersilakan duluan mungkin karena kalau sudah booking khawatir menunggu pihak penjemputan hotel kali ya, tapi ga tau juga sih. Antriannya lamaa sekali dan melelahkan, karena kita sambil membawa semua barang kita. Kenapa lama, ternyata karena petugas bea cukainya cuma seorang! Awalnya saya membatin 'ya ampun kok orang sebanyak gini petugasnya cuma seorang'. Tapi karena protes itu melelahkan, saya mengganti jadi 'ya ampun bapak yang sabar ya, harus nanganin banyak orang gini sendirian', jadi kasian sama bapaknya. Semoga kuat ya Pak. Di sini baru kita serahkan form bea cukai yang kita isi di pesawat.

 

Setelah itu kita keluar bandara, dan ada antrian lagi. Karena saya lihat antriannya cuma 1 ya udah saya mengantri di situ. Kemudian saya bingung karena ada 4 meja di depan, tapi kenapa orang2 cuma 1 baris ngantrinya. Setelah tanyakan ke petugasnya ternyata itu antrian untuk yang wisma, untuk yang hotel dipersilakan langsung ke 3 meja yang lainnya. Waduh. Jadi saya sarankan untuk tanya ke petugas antrian apa itu (kedua kalinya). Beneran antriannya membingungkan. Semoga kita bisa lebih tertib lagi oh bangsaku..

 

Sebenarnya, saya tadinya berniat ke hotel yang di alam sutera, karena dekat rumah. Tapi kata grup di facebook bisa booking on the spot, jadi ya udah saya santai saja. Ternyata yg di 3 meja itu tidak ada hotel yang saya rencanakan. Jadi saya sarankan ke teman-teman, lebih aman untuk membooking hotel terlebih dahulu, apalagi kalau ada preferensi lokasi maupun harga. Sepertinya yg on the spot di bandara jadwalnya digilir.

Okelah, saya pilih saja dari ketiga hotel itu. Hotel yang pertama, untuk paket karantina katanya 8 juta-an all in, mahal sekalii.

Kemudian saya ke meja hotel berikutnya, kali ini agak rational harganya 5 juta. Namanya Luminor Hotel, hotel bintang 3 di Taman Sari (silakan search). Paket karantina ini terdiri dari :

  • Biaya PCR
  • Makan 3x (kalau puasa 2x) diantar ke kamar
  • Laundry 3 pcs/hari
  • wifi

Alhamdulillah saya putuskan di hotel ini saja.

Setelah itu booking di tempat, pasport dan boarding pass saya diminta (boarding pass jangan sampai hilang ya), kemudian dikembalikan lagi. Saya lalu diarahkan ke bagian pengantaran ke hotel, 1 orang 1 mobil.

 

Perjalanan sekitar 30 menit menuju hotel. Ternyata hotelnya cukup bagus, tidak seperti yang saya khawatirkan. Kemudian saya check in sekitar pukul 20:30 malam. Oh ya, saya sampai di bandara sekitar pukul 17:00 lewat. Jadi lebih dari 3 jam mengalami proses hingga sampai ke hotel.

Ketika check in passport akan diminta, dan akan dikembalikan ketika check out. Hal-hal penting yang perlu diketahui :

  • makanan akan diantar ke kamar. Karena saya berpuasa, maka diantar 2 kali. Untuk sahur antara pukul 03:30-04:00, dan buka puasa sekitar pukul 17:00-17:30. Untuk porsi, jenis varian makanan, dan rasa, saya cukup puas. 
  • PCR test pertama dilakukan keesokan harinya (mungkin karena saya sampai di malam hari). PCR test kedua dilakukan 3 hari kemudian. Kemudian besoknya check out. Jadwal PCR test tidak ada dan tidak diberi tahu, jadi langsung langsung tanyakan saja ke receptionist.
  • Wifi lumayan stabil.

Overall saya cukup nyaman di hotel ini, lumayan saya rekomendasikan ke teman-teman yang mencari hotel.

 

Mungkin cukup sekian cerita saya kali ini. Semoga bermanfaat :)


Jumat, 25 September 2020

「他人と比べない」のはわかっているけど・・

 仕事にしろ、育児にしろ、家事にしろ。

あの人はできるのになんで私はできないんだろう・・

と考えることはありますか。

他人と比べないとはわかっているけども。

心の奥がモヤモヤする。

自分が劣っているのがみっともなく感じる。

自分が悲しい。そんな自分が嫌い。

そう思ったことはありますか。


そんな時は・・・

他人と比べる前に、自分がまだできていないのは事実。

まず第一に、できていないことに気づけた自分を褒めて上げて。そして、できていない自分を否定しないで、受け入れる自分でいられたら更に褒めて上げて。よくやった。できない自分を素直に認め、受け入れること。これが意外と一番難しいなのかもしれない。それができたら、もう大丈夫。あなたは前に進める。なぜなら、それは成長する自分への第一歩。成長のチャンスだよ。

その次に、自分のストーリーを思い浮かべて。

自分はどこに向かっているのか、何をしようとしているのか。

自分のゴールと今の自分を見極めて。

自分のゴールをベースに、そのゴールに向かって自分は何をすればいいのか。

そこから、自分の足りない部分が見えてくる。

その自分の足りないところは、他人と比べるのではなく、自分のゴールを目指すために補っていくものだと考えた方いいかもしれない。

そして、自分ができるかできないかはあまり考えなくなり、そのゴールに向かって、私は今何をすればいいのかと段々焦点を当てるでしょう。

大丈夫、焦らず自分のペースでいいと思う。

周りから動くためのヒントを求め、神様にたくさん祈って、自分を成長させ、自分の最高のストーリーを作ろう。

うん、それだけでもう十分だよ。

Rabu, 09 September 2020

大学の研究と高校の勉強のちがい

 そうなんだよな〜。

高校以下の勉強って、

教材があって、何を勉強するのかの流れは明確で、答えもあって、説明してくれる先生がいて、そのことを一緒に勉強している仲間がいて、わからなかったら先生やら友達やらにも聞ける。

今振り返れば「簡単」だったもんね。勉強の仕方としては。

それに比べると、研究っていうものは、

教材は自分で探す。何を研究するのは定かではない(自分で見つけ出すことが前提)。答えはあるかどうかわからない時もある。先生に聞いてもわからない時もある。全く同じ研究をする人はあまりいない。

この方法であってるのだろうか。

どうやって実装するのか。

どうやって結果に導き出すのか。

自分にとっては、わからなかったら誰に聞けばいいのか、どうやって調べるか、ということが一番難しい。わからなかったらどうやって答えを導き出すのか、それをまず考えなきゃいけない。

みんな全く同じことをやっている人はいないから。

答えじゃなく、ヒントならもらえるけど。

散らばったヒントのピースを一つ一つ丁寧に集めては当てはめて、いずれかは完成する結果のパズルを作り出すのが、研究だね。

やっぱりこの段階が一番ツラい。

真っ暗な出口の見えないトンネルを進んでいくみたいに。

でもやはり、

いつも成功する研究はないと同じように、

いつも失敗する研究はない。

私たちは努力して、自分を成長させるのだ。

一歩一歩、確かに前に進んでいる。

その一歩が大きな一歩か小さな一歩かにも関わらず。

成長は結果と違って、すぐには見えないものだけど、

その成長は、少しずつ結果に近づくのだろう。

今ががんばりどき。

そして、どこかのタイミングで、結果が出て、自分も前よりかは成長できて、

やってよかったと思える日が来る。

きっと。

Sabtu, 22 Agustus 2020

他人にこう言わなきゃよかった、ああしなきゃよかったと思う時

 一言の多い自分。

他人に対して、こう言わなきゃよかった、ああしなきゃよかった。

時々思いますよね。

ふとそのことについて思い出したら、「ああああ!!」と叫びたくなる。恥ずかしさがいっぱいな自分。

どうすればいいんだろう?と考えてみた。

まず、他人に悪いことをしたのならば、謝る。その時はああ言ってごめん、って。

でも、もし謝るほどのことじゃないのであれば、それでいいよ。

まずは、そう言ってしまった自分を許す。恥ずかしかったよね、でもそれでいいんだよ。大丈夫だよ。自分に優しくしな。

そう言うのはあまり良くなかったな、と発見した自分を褒める。気づいてよかったじゃん!自分も成長したな!今後そう言わないようにするだけでいい。経験を積んだな、って。

あとね、一番大切なこと。どうして恥ずかしくなるんだろうと考える時に、「他人に変だと思われてしまう」「他人に嫌われてしまう」など、他人の評価を気にしすぎない?けどさ、その評価を気にしすぎると、疲れてしまうと思う。思い切って、他人に「自分はこういう生き物だ!なんて思われたって平気!」という勢いで生きていこう。別に悪く思われたっていいし、変な人だなって思われたっていい。人はみんな間違いをする生き物だから。けど、その間違いからどう学んでいくのかが大事。

だから、気楽でいい。肩の力を抜いて。堂々と自分らしく。

(写真:上空から見た富士山)


Minggu, 28 Juni 2020

Memisahkan Masalah Diri dan Masalah Orang Lain

Kata orang, mood itu menular.
Bila orang lain senang, kita juga ikut senang.
Bila orang lain sedih, kita juga ikut sedih.
Bila orang itu kesal, apakah kita juga ikut kesal?

Kalau saya, awal-awal iya.
Saya kerap kali ikut merasa kesal kalau ada orang lain yang kesal di sekitar saya.
Itu membuat suasana jadi tidak enak.
Atau setidaknya merasa, kok gitu aja kesal sih.
Kok gitu aja marah-marah sih. Kan ada cara lain yang lebih baik.
Intinya, saya ikut merasakan emosi negatif bila ada orang yang beremosi negatif.
Entah saya merasa ikut bersalah, jangan-jangan dia kesal karena salah saya (tapi ga berani nanya), atau merasa ikut kesal, marah (di dalam hati), dan perasaan lainnya yang bercampur aduk.

Sampai suatu saat saya merasakan suatu kedamaian di hati.
Saya bisa stay cool walaupun orang di sekitar saya memiliki emosi negatif.

"Itu masalah dia, bukan masalah saya."

Bukan berarti saya tidak peduli. Bukan.
Maksudnya, itu masalah dia, saya tidak perlu ikut kesal maupun terlalu ikut pusing memikirkannya.
Bila masalah dia menyangkut saya, saya minta maaf (Yap, perlu dipastikan langsung ke orangnya, karena hanya berprasangka itu melelahkan).
Tapi kalau bukan karena saya, saya membantunya dengan cara sebisa saya.
Ingat, peran utama pemecahan masalah dilakukan oleh orang yang bersangkutan.
Saya hanya supporter saja. Kalau tidak bisa dengan kata-kata atau perbuatan, ya dengan doa.
Kadangkala kita terlalu ikut campur dalam memikirkan masalah orang lain. Kita kasih saran-saran, eh orang itu tidak mengikuti saran tersebut, lalu kita jadi gregetan.

Orang tua yang terlalu ikut campur dalam masalah anak.
Istri yang terlalu ikut campur dalam masalah suami, atau sebaliknya.
Memang kita harus saling membantu, tapi jangan mengambil alih pelaku pemecahan masalah.

Jadi, bila orang di sekitar kita memiliki masalah, stay cool saja. Jangan terpancing emosi. Itu masalah dia, lakukan saja apa yang kita bisa lakukan.
Setelah emosi yang bersangkutan agak mereda, kita bisa tanyakan apa yang bisa dibantu.
Kita bisa membantu dengan kata-kata yang menghibur. Atau dengan menawarkan makanan atau minuman untuk melunakkan suasana.
Bila bantuan kita dirasa tidak terlalu berarti, jangan diambil hati. Karena pelaku pemecahan masalah bukan di kendali kita.

Pisahkan masalah orang lain dan masalah kita.
Masalah kita, kita hadapi dengan serius.
Masalah orang lain, cukup bantu semampu kita tanpa merasa baper.
Tentunya jangan lupa berdoa kepada Allah, agar masalah terselesaikan, dan hati senantiasa damai :)
Insyaa Allah.

Jumat, 25 Mei 2018

Obat Anti Galau

Akhirnya saya menemukan obat anti galau dalam hidup. Seringkali kita tahu teorinya, harusnya kalau ada masalah mindset kita begini begitu, tapi susah dalam prakteknya. Adakah jalan pintas setiap kita merasa gelisah, kita langsung tenang? Mungkin hal ini bisa dipraktekkan.

1. "Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing atas dirinya."
Konsep ini dapat dipraktekkan terutama ketika kita memiliki masalah hablum minannaas, entah itu dengan teman, keluarga, atasan, atau yang lainnya. Kadangkala dalam berinteraksi dengan orang lain, kalau ada ketidaksesuaian kita merasa kecewa, sedih, atau marah. Kalau bisa disampaikan ya sampaikanlah. Namun apabila sulit, doakan saja. Biasanya masih ada sisa-sisa bete kan ya, ih kok dia gitu banget sih. Nah untuk mengatasi kegalauan atau bete, pikirkan saja "Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing atas dirinya." Biar aja ah dia kayak gitu, yang penting saya sudah berusaha sebaik mungkin dan berniat baik. Fokus sama diri sendiri aja deh. Udah.

2. "Serahkan masalah sama Allah."
Manusia adalah makhluk yang lemah. Seringkali kita menemukan ketidakmampuan dalam diri kita, dan merasa lelah. Saya sering merasa gitu. Aduh kok badan capek mulu ya kapan bisa kerja. Aduh kok orang itu gitu banget sih tapi susah ngomongnya. Aduh saya bisa gak ya bla ba bla. Kadangkala overthinking membuat kita lelah, dan masalah yang ada membuat galau. Jadi obatnya, saya serahkan sama Allah. Berdoa. Nah awalnya mungkin ngerasa, ih itu abstrak banget, gak konkrit. Curhat sama orang terus minta tolong gitu kek. Tapi menurut saya inilah langkah awal untuk menghadapi sebuah masalah. Mungkin pertama Allah akan memberikan ketenangan di kita, akhirnya kita bisa jernih berpikir mencari solusi. Mungkin Allah akan mengirimkan seseorang untuk membantu kita menyelesaikan masalah. Dan banyaak lagi kemungkinan lainnya. " Ya Allah saya titip masalah ini kepada Engkau, semoga ada jalan keluarnya." berdoa dengan yakin Allah akan mudahkan. Saya masih belajar juga sih ini hehe.

Nah terus, akhir-akhir ini saya suka membaca arti dari ayat quran yang saya baca. Di quran saya, selain ada arti ada juga asbabun nuzul dan intisari ayat. Saya pelan-pelan baca semuanya (biasanya diskip kejar target setoran #ups). Banyak hal-hal yang menarik ternyata. Banyak ayat-ayat yang mengingatkan kita tentang surga dan neraka. Nah sebenarnya kan kita udah tahu konsep surga neraka, tapi walaupun udah tau menurut saya penting itu dibaca berulang-ulang sampai ngelotok. Kenapa? Supaya bisa diserap sampai ke lubuk hati terdalam. Kalau ada apa-apa kita langsung keinget, saya salah sampai berdosa ga? Kalau enggak mah ngapain galau.

Terus juga, agak OOT sih tapi. Saya pernah sempat baca-baca banyak kisah sahabat Nabi. Masya Allah ya perjuangan mereka di awal-awal keislaman. Saya sampai mikir, ya ampun masalah saya sepele banget dibanding mereka. Ga pantes ah ngeluh-ngeluh. Saya banyak diberi kenikmatan, kenapa malah mikirin masalah yang keeecil? Ternyata membaca cerita kisah-kisah perjuangan sahabat shahabiyah tidak sekedar baca cerita, namun juga bisa jadi penyemangat menjalani kehidupan sehari-hari.

Akhir kata, galau-lah untuk hal-hal yang penting saja!

Selasa, 02 Januari 2018

Diet Ala Ibu Hamil (tanpa berolahraga!)

Jadi ceritanya, saya diet pertama kali dalam hidup saya, yaitu ketika hamil!
Kenapa ibu hamil perlu diet? Karena di Jepang sangat memperhatikan kenaikan berat badan pada ibu hamil (terutama rumah sakit tempat saya periksa, yang terkenal ketat dalam hal ini). Untuk yang berat badannya dalam standar BMI pertambahan berat badan yang diperbolehkan adalah sekitar 8-10 kilo, dan bagi yang di bawah BMI 9-12 kilo. Untuk yang di atas BMI? Sekitar 5-7 kilo katanya.

Sedikit info kenapa kita harus mengontrol pertambahan berat badan ketika hamil. Salah satu alasannya adalah untuk mempermudah jalur melahirkan nanti. Bila kita terlalu gemuk secara tiba-tiba, maka lemak akan menempel di saluran lahir dan itu akan menghambat bayi keluar. Berbagai penyakit juga akan muncul bila kenaikan berat badan ibu terjadi secara signifikan.

Kalau diet biasa mah gapapa nahan lapar dikit. Nah masalahnya kalau ibu hamil, asupan gizi harus cukup. Kebanyakan makan ga baik, terlalu sedikit makan apalagi. Itu suliiit. Biasanya ibu hamil diimbangin dengan olahraga ringan (seperti jalan kaki) untuk menjaga kestabilan berat badan. Tapiii berhubung saya mengalami kontraksi dini, saya tidak bisa berolahraga. Jalan-jalan di dalam rumah (mengerjakan pekerjaan rumah) saja saya batasi, apalagi bepergian ke luar.
Namun alhamdulillah, berkat saran dari dokter, tanya-tanya ke teman, dan googling dari beberapa sumber (dan tentunya atas izin Allah), saya dapat menjaga pertambahan berat badan saya! Tanpa berolahraga dan tanpa heboh menahan lapar.

Berikut tips-tips dari saya :

- Untuk minuman, kurangi yang manis-manis dan perbanyak minum air putih. Dulu saya suka banget minum cocoa atau milk tea. Nah ini yang pertama kali saya lakukan, mulai dari memperbaiki asupan air yang masuk. Bahkan jus kemasan pun kalau bisa dihindari, karena manisnya kadang kala lebay. Kalau bisa minum air putih minimal 1,5 L.

- Untuk porsi makan, sarapan lebih banyak dari makan siang, makan siang lebih banyak dari  makan malam. Makan malam jangan terlalu banyak, sebaliknya kita boleh makan yang cukup ketika sarapan atau makan siang untuk energi selama satu hari. Oh ya, kata dokter ternyata kurang baik loh makan buah-buahan saja untuk sarapan. Karena gulanya sangat tinggi di situ (ibu hamil juga harus memperhatikan kadar gula).

- Makan yoghurt setiap hari setelah sarapan. Selain menghilangkan sembelit, menurut teman saya ini juga efektif mengurangi berat badan. Oh ya, yoghurtnya yang plain yoghurt tanpa tambahan gula ya. Saya bahkan beli plain yoghurt yang rendah lemak.

- Kalau saya sih tidak mengurangi porsi nasi (awal mulanya saya mengurangi porsi nasi, tapi malah laper dan jadi ngemil-ngemil gak jelas). Di awal-awal mungkin tidak perlu mengurangi porsi nasi (kalau dirasa sulit), TAPI perhatikan juga lauk yang dimakan. Jangan makan nasi lauknya kentang sayurnya bihun (atau mie) ditambah kerupuk. Itu mah karbohidrat semuaa. Perbanyak sayur, kalau bisa hindari sebisa mungkin gorengan. Kalau makan ayam goreng minyaknya diserap dulu pake kitchen paper. Lauk berupa bakwan juga kalau bisa dihindari karena 30%nya adalah minyak (kata bidan di pre-mama class). Rebusan kukusan paling aman lah pokoknya.

- Jam-jam rawan lapar adalah di antara sarapan dan makan siang (jam 10-an), dan di antara makan siang dan makan malam (jam 3-an). Tipsnya adalah, untuk yang jam 10-an, biasanya saya minum sesuatu yang mengenyangkan seperti susu kedelai (yg tanpa tambahan gula dan bahan lainnya). Kalau masih laper juga, ya udah makan siangnya aja dipercepat haha. Nah yang jam 3-an baru 'agak bebas ngemil' karena konon katanya makan di jam 2-4 siang tidak terlalu bikin gemuk. Namuun tetap saja dikontrol ya.
Kurangi (kalau bisa hindari) snack atau cemilan kemasan yang manis-manis, seperti cokelat, biskuit. Potato chips yang berbau-bau karbo juga hindari. Cokelat bolehlah sekali-kali tapi pilih yang dark chocolate. Ngemil yang sehat saja seperti buah, kurma, ubi, bubur kacang hijau (tanpa santan dan sedikit gula). Plain cracker masih oke lah kalau ga banyak-banyak mah.
Kalau pengeeen banget ngemil makanan kemasan yang manis-manis atau es krim, boleh saja tapi maksimal 100-150 kcal sehari (atau dikira-kira saja jangan kebanyakan). Kalau mau ngemil baiknya sampai sebelum jam 4 sore. Jangan sampai stress pokoknya, ini yang penting! haha.

- Biasanya saya juga suka kelaparan begitu bangun sebelum sholat shubuh. Saya mengatasinya dengan minum susu hangat dan kurma, kadang-kadang sama pisang. Tapi hati-hati juga dengan pisang karena kalorinya cukup tinggi. Kadang-kadang saja lah pisang mah. Untuk kurma, memang bagus untuk ibu hamil, tapi batasi 3-4 butir per hari saja. Kalau engga nanti kadar gula darah akan naik. Untuk susu, saya pilih yang low fat (tapi tidak mengurangi zat gizi yang lain).

- Tidur malam usahakan 3 jam setelah makan malam. Tapi katanya kalau rebahan doang gapapa, asal jangan tidur. Langsung tidur setelah makan bikin gampang gemuk.

- Kalau kepaksa lapeeer banget di luar jam-jam 'boleh ngemil', misal setelah makan malam kok laper yah? Sering banget saya kayak gitu. Yang pertama kali adalah minum air putih. Karena konon katanya rasa lapar dan haus itu mirip. Jadi jangan-jangan yang kita rasa lapar itu sebenarnya haus? Atau coba minum yang sedikit mengenyangkan, susu kedelai. Kedua, saya makan kurma atau plain cracker. Sebisa mungkin yang tanpa gula. Gula pun pilih yang bersumber alami. Kalau masih sulit ya udah tidur aja, atau melakukan aktivitas lain haha.

- Jam 22.00-02.00 merupakan jam-jam yang kalau kita makan bikin gampang gemuk, jadi palingan saya nahan laparnya di jam-jam ini saja (kalau kebetulan kebangun di jam segitu).

- Yang terakhir, ga ada hubungannya sama makan dan minum sih. Menimbang berat badan tiap hari di jam yang sama dan mencatatnya cukup efektif lo ternyata, untuk meningkatkan motivasi mengontrol berat badan hihi.

Menurut saya ini diet sehat, bisa diterapkan oleh siapa pun tidak hanya untuk ibu hamil.
Akhir kata, selamat memperhatikan pola makan :)